Tiga bulan sudah setelah pesta kelulusanku, tapi aku masih berada di rumah dan menyandang status "pengangguran", atau lebih tepatnya "pekerja yang belum bekerja". Setidaknya itulah yang selalu ku katakan pada diriku saat lamaran kerja yang kesekian kali ku kirimkan pada perusahaan yang kesekian, lagi-lagi harus berujung pada kekecewaan. Sebenarnya pernah ada beberapa teman yang menawarkan untuk bekerja bersama mereka di luar kota. Akan tetapi, karena faktor biaya tawaran itu terpaksa aku tolak.
Namaku Roni. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahku adalah seorang pengangguran, sedangkan ibuku memutuskan untuk meninggalkan Anak-anaknya dan Ayahku satu tahun setelah kelahiran adik keduaku karena alasan pekerjaan ayahku.

***

Satu tahun telah berlalu kini, dan ijazah sekolah tingkat atas (SMA) yang ku dapat dengan susah payah seakan tak pernah ada gunanya. Ijazah yang ku dapat berkat bantuan Ayahkuselama 3 tahun dari penjualan tanah dan barang warisan yang dimiliki Ayahku nampaknya hanya menjadi sebatas formalitas saja. Buktinya, aku masih berada di rumah. Aku melanjutkan pekerjaan Ayahku, menjadi seorang pengangguran. Padahal ia pernah menasihatiku agar aku tidak meniru ayah dan harus hidup lebih baik dari dia. Tapi, apa daya. Mungkin aku telah mengecewakan ayahku yang telah mati-matian membiayai sekolahku. Tapi, terkadang dalam hati ini aku merajuk, "Ayah, mengapa kau seorang pengangguran?" ketika ku ingat bahwa dirinyalah yang menyebabkan ibuku meninggalkan aku dan kedua adikku, atau ketika ku ingat bahwa ia telah menaruh beban yang begitu besar di pundakku. Dan masih terngiang jelas ucapan ayahku di hari kelulusanku "tugasku sudah selesai dan sekarang adalah giliranmu, Ron". Meski begitu, aku sadar bahwa ayahku telah mengingatkanku agar pertanyaan "Ayah, mengapa kau seorang pengangguran tidak lagi diucapkan oleh anakku kelak.