Hari ini adalah hari raya idul fitri. Mestinya aku merayakan hari ini dengan rasa senang, karena semua saudara dari ayah dan ibuku selalu berkumpul di rumah nenekku, termasuk dua saudara perempuanku, Intan dan Shela, yang memang pulang setahun sekali karena mereka mengikuti suaminya masing-masing. Ada juga paman dan bibiku dari kota yang sedang asyik dengan cucu pertama dari anak kedua mereka, Ilham. Belum lagi kini ada Nadia, wanita yang ku nikahi tepat satu setengah bulan sebelum bulan ramadhan. Tapi, idul fitri kali ini berbeda. kehadiran aku dan saudara-saudaraku sekaligus anak dan cucu bagi nenekku, justru malah membuat nenek menangis. Aku heran. Lalu ku tanyakan pada Ayah dan ibuku perihal nenekku yang tiba-tiba menangis, tapi kemudian mereka pun malah ikut menangis. Lalu aku bertanya pada kedua kakakku, Intan dan Shela, perihal nenek dan orang tuaku sekaligus orang tua mereka yang tiba-tiba menangis, tapi mereka pun lalu ikut menangis. Begitu pun seterusnya sampai semua orang yang ku tanya malah merubah hari raya ini jadi lautan kesedihan. Aku pun semakin bingung, kenapa semua orang menangis. Lalu ku tanya pada diri sendiri, apa yang sesungguhnya membuat mereka menangis. Akhirnya aku pun tahu jawabannya dan aku pun ikut menangisi.