Meski orang-orang di lingkunganku bilang bahwa rumah besar yang ku tempati ini sangat angker, tapi aku kerasan tinggal di sini. Lagi pula ini adalah warisan dari orang tuaku. Tapi semenjak seluruh keluargaku dibantai oleh sekelompok perampok di malam itu, orang-orang di lingkunganku menyebut rumahku ini sebagai rumah hantu. Ingin rasanya aku menjelaskan pada mereka bahwa rumahku ini baik-baik saja dan tidak seperti yang mereka bicarakan. Pernah beberapa kali datang lima sampai tujuh pemuda ke rumahku ini. "Mungkin ini waktu yang tepat menjelaskan semuanya", fikirku. Tapi baru saja aku mencoba menghampiri mereka, para pemuda itu sudah terlebih dahulu tunggang-langgang. "Orang-orang yang penakut", fikirku. Begitulah seterusnya setiap kali aku ingin menjelaskan semuanya. Dan sampai saat ini rumah besarku ini masih disebut rumah angker oleh orang-orang itu. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku masih tetap akan tinggal di sini. Lagi pula, potongan kepalaku pun belum ku temukan.